Kurikulum Cinta Diluncurkan di Tana Toraja, Kakanwil Kemenag Sulsel Tekankan Peran Guru dan Ekoteologi

Makale, Humas MAN Tana Toraja – Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan secara resmi meluncurkan kurikulum berbasis cinta di Tana Toraja (Jumat, 22/8/2025).

Acara yang dihadiri oleh Wakil Bupati Tana Toraja, Kapolres Tana Toraja, serta berbagai tokoh masyarakat dan guru madrasah ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kerukunan.

Dalam sambutannya, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, menekankan bahwa kurikulum ini dirancang untuk mengatasi konflik dan kekerasan dengan mengajarkan cinta kepada Tuhan, lingkungan, dan sesama.

Beliau menjelaskan, kurikulum ini merupakan terobosan baru yang tidak hanya berfokus pada kompetensi akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter.

“Kami ingin guru-guru tidak hanya mengisi otak anak-anak, tetapi juga hati mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan, persoalan global seperti konflik dan intoleransi sering kali berakar dari hati yang tidak terisi dengan cinta dan moralitas. Oleh karena itu, kurikulum ini menjadi pondasi penting untuk menciptakan generasi yang lebih toleran dan berempati.

Lebih lanjut, Ali Yafid menyoroti pentingnya peran guru sebagai teladan.

“Seorang guru adalah panutan bagi siswa-siswi nya. Apa yang guru lakukan, bahkan hal kecil, akan terekam kuat di benak siswa,” katanya.

Ia mengimbau para guru untuk menanamkan nilai-nilai universal seperti keadilan, kejujuran, dan anti-kekerasan, serta menjauhi ajaran yang menumbuhkan kebencian atau perbedaan.

“Pendidikan yang benar mengajarkan kesamaan dan persaudaraan, bukan perpecahan,” tegasnya.

Selain itu, Ali Yafid juga memperkenalkan konsep ekoteologi sebagai bagian integral dari program Kemenag. Ia menyebutkan, pemeliharaan lingkungan kini menjadi salah satu prioritas utama, bahkan seluruh ASN Kemenag yang baru menerima SK diwajibkan untuk menanam dan merawat pohon, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap alam.

“Jika lingkungan rusak, bagaimana kita bisa beribadah dan bekerja dengan baik? Lingkungan adalah bagian dari iman kita,” jelas Ali Yafid.

Tak lupa Ali Yafid juga memuji kerukunan umat beragama di Sulawesi Selatan, khususnya di Tana Toraja, yang ia sebut sebagai aset berharga bangsa.

“Indeks kerukunan di sini sangat tinggi, jauh di atas rata-rata nasional. Ini menunjukkan bahwa meskipun kita beragam, kita adalah satu saudara dalam bingkai NKRI,” tuturnya.

Ia meminta semua pihak, khususnya para ASN  Kementerian Agama, untuk terus mensosialisasikan program-program pemerintah daerah dan menjaga semangat persaudaraan ini.

Peluncuran kurikulum cinta ini diharapkan dapat membawa perubahan positif dalam dunia pendidikan dan kehidupan bermasyarakat, menjadikan Tana Toraja sebagai pionir dalam menumbuhkan generasi yang berakhlak mulia dan peduli terhadap sesama serta lingkungan. (An)