Makale, Humas Bimas Islam Kemenag Tana Toraja — Dalam upaya memperkuat kapasitas penyuluh agama muda di tengah dinamika dakwah yang semakin kompleks, Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja menyelenggarakan Pembinaan Dai dan Daiyah Tahap Kedua. Kegiatan ini diikuti oleh penyuluh agama muda dari berbagai kecamatan di wilayah Kemenag Tana Toraja.
Plt. Kasi Bimas Islam, Mifta Farid, dalam laporannya menyampaikan bahwa pembinaan ini bertujuan menambah wawasan keagamaan peserta secara intensif serta memberikan penguatan bagi para penyuluh dalam menghadapi tantangan dakwah di era teknologi. Ia berharap para dai dan daiyah dapat menjadi penyampai pesan keislaman yang moderat, adaptif, dan mampu memberikan pemahaman yang menyejukkan kepada masyarakat.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja, H. Usman Senong, hadir sekaligus membuka kegiatan. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peningkatan kapasitas diri bagi setiap dai dan daiyah. “Penyuluh harus menguasai materi yang berkualitas serta metode penyampaiannya. Namun lebih dari materi dan metode, seorang dai harus mampu menjadi pribadi yang kompeten dan berintegritas,” pesannya.
Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri utama. H. Achmad Toago sebagai pemateri pertama membawakan materi bertema “Menguatkan Moderasi Beragama: Dakwah yang Menyejukkan dalam Masyarakat Multikultural.” Ia menegaskan perlunya menghadirkan dakwah yang merangkul perbedaan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang beragam.
Pemateri kedua, H. Arifuddin, membawakan materi “Peningkatan Kompetensi Dai/Daiyah: Integritas, Profesionalisme, dan Ketangguhan dalam Merespons Dinamika Umat.” Ia menekankan bahwa juru dakwah masa kini tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga harus tangguh menghadapi arus informasi serta tetap menjaga integritas di tengah tantangan sosial.
Melalui pembinaan ini, para penyuluh muda memperoleh bekal teori dan panduan praktis untuk menjadi dai dan daiyah yang responsif terhadap perubahan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang penuh rahmat. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi pendakwah muda yang mampu menjaga harmoni, menebar kesejukan, dan menjadi jembatan umat dalam masyarakat yang majemuk.(SC)
