Siapkan Diri Menuju SRA, MAN Tana Toraja Hadirkan Fasilitator Nasional

MAKALE, Humas MAN Tana Toraja – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja mengambil langkah serius untuk bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang aman dan nyaman bagi siswanya. Dalam sebuah kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang diadakan Sabtu, 20 September 2025, MAN Tana Toraja mengundang langsung Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak (SRA), Dr. Musmuliadi, S.Ag., M.A.
Acara yang berlangsung di Aula Masjid Raya Makale ini diikuti oleh seluruh pendidik dan tenaga kependidikan MAN Tana Toraja.

Komitmen ini menunjukkan kesiapan MAN Tana Toraja untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berpihak pada kesejahteraan dan perlindungan anak.

Misi Baru: Madrasah Bukan Hanya Tempat Belajar, Tapi Juga Rumah Kedua

Kepala MAN Tana Toraja, Hj. Rosmawati, dalam sambutannya menegaskan bahwa visi madrasah kini tidak hanya terfokus pada pencapaian akademik.

“Kita ingin madrasah menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Tempat di mana mereka merasa aman, didukung, dan bisa mengembangkan potensi tanpa rasa takut,” ujarnya.

Menurutnya, inisiatif menuju SRA adalah respons terhadap tuntutan zaman yang mengharuskan lembaga pendidikan untuk lebih sensitif terhadap isu-isu perlindungan anak.

“Ini adalah langkah konkret kita untuk memastikan setiap siswa mendapatkan haknya untuk belajar dan tumbuh dalam lingkungan yang positif,” tambahnya.

Enam Pilar Penting Menuju Sekolah Ramah Anak

Dr. Musmuliadi, yang juga merupakan Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Soppeng, memaparkan secara rinci enam komponen utama dalam implementasi SRA. Beliau menekankan bahwa SRA bukanlah sekadar label atau program, melainkan sebuah budaya yang harus dibangun secara kolektif.

* Kebijakan Ramah Anak: Dr. Musmuliadi mengawali dengan poin paling fundamental, yaitu adanya kebijakan yang jelas.

“Madrasah harus punya regulasi yang melindungi, bukan menghukum. Aturan harus dibuat untuk mendukung hak-hak anak, bukan untuk membatasi mereka,” jelasnya.

Ini mencakup SK, tata tertib, kurikulum, hingga sistem penanganan masalah yang berorientasi pada kepentingan anak dan dideklarasikan secara terbuka

* Pendidik dan Tenaga Kependidikan Terlatih: SRA membutuhkan para pengajar yang tidak hanya ahli di bidang mata pelajaran, tetapi juga memahami hak-hak anak. Dr. Musmuliadi mendorong para guru untuk mengubah pola pikir dari sekadar pengajar menjadi “fasilitator dan pelindung” yang peka terhadap kondisi mental dan emosional siswa.

* Pelaksanaan Proses Belajar yang Ramah Anak: Proses pembelajaran harus dibuat menarik dan tidak menimbulkan tekanan.

“Ini bukan lagi soal guru yang mendominasi. Pembelajaran harus interaktif, menyenangkan, dan memicu kreativitas siswa,” katanya. Inovasi metode ajar adalah kunci.

* Sarana dan Prasarana Ramah Anak: Lingkungan fisik madrasah juga memegang peran vital. Dr. Musmuliadi menyebutkan, sarana harus aman, bersih, dan mendukung berbagai aktivitas siswa, mulai dari ruang kelas yang nyaman hingga fasilitas pendukung lainnya.

* Partisipasi Anak: Salah satu pilar terpenting SRA adalah melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan.

“Suara mereka harus didengar. Libatkan siswa dalam menyusun tata tertib, merencanakan program ekstrakurikuler, karena merekalah subjek utama dalam pendidikan ini,” tegasnya.

* Partisipasi Orang Tua, Alumni, dan Dunia Usaha: Dr. Musmuliadi menekankan bahwa SRA adalah tanggung jawab kolektif. Keterlibatan aktif dari orang tua, alumni, organisasi masyarakat, hingga dunia usaha sangat krusial.

“Ini bukan lagi tanggung jawab sekolah semata, tapi sinergi dari seluruh elemen masyarakat,” pungkasnya.

Di akhir sesi, para pendidik dan tenaga kependidikan MAN Tana Toraja terlibat dalam diskusi aktif, menunjukkan semangat kuat mereka untuk segera menerapkan konsep SRA. Komitmen ini diharapkan dapat menjadikan MAN Tana Toraja sebagai pionir dalam menciptakan pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga humanis dan berpihak pada anak. (An)