Makale, (Humas Pendis) — Dalam upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan keberagamaan yang inklusif, telah dilaksanakan kegiatan Workshop Penguatan Moderasi Beragama yang diikuti oleh perwakilan dari MIN 1 Tana Toraja dan MIN 4 Tana Toraja. Kegiatan ini mengusung tema “Menjalin Harmoni dalam Keberagaman untuk Memperkuat Kebangsaan” dan dilaksanakan di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja pada Jumat, 1 Mei 2026.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pemahaman bahwa yang dimoderasi bukanlah ajaran agama itu sendiri, melainkan sikap keberagamaan dalam mengamalkan nilai-nilai ajaran tersebut. Pendekatan moderasi diarahkan pada upaya menggiring cara pandang dan praktik beragama ke posisi tengah (tawasuth), sehingga mampu menciptakan keseimbangan serta mendorong sikap terbuka terhadap perbedaan. Pemahaman agama secara tekstual tetap menjadi dasar, namun harus diiringi dengan konteks sosial agar tidak melahirkan sikap eksklusif maupun ekstrem, melainkan mampu menerima perbedaan sebagai bagian dari realitas kebangsaan.
Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja, Usman Senong, yang dalam arahannya menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi utama dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Beliau mengajak seluruh peserta untuk menjadi garda terdepan dalam menyebarluaskan nilai-nilai moderasi di lingkungan madrasah dan masyarakat.
Workshop ini menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Achmad Toago dan Suardi Sidik, yang dikenal sebagai tokoh dengan ketokohan kuat dalam penguatan moderasi beragama di Tana Toraja. Melalui pemaparan materi yang komunikatif dan kontekstual, peserta diajak untuk memahami serta mengimplementasikan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan berlangsung dengan pendampingan langsung dari Plt. Kasi Pendidikan Islam bersama para pengawas madrasah, sehingga proses pembinaan berjalan optimal dan terarah. Diharapkan melalui kegiatan ini, para peserta mampu menginternalisasi nilai moderasi beragama serta menerapkannya secara nyata dalam lingkungan pendidikan dan masyarakat luas.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, workshop ini menegaskan bahwa harmoni dalam keberagaman adalah kunci utama dalam memperkuat kebangsaan. Moderasi beragama menjadi jembatan untuk merawat perbedaan, menumbuhkan sikap saling menghargai, serta mencegah lahirnya paham-paham radikal yang tidak mampu menerima keberagaman. Dengan demikian, nilai-nilai kebangsaan tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Esensi dari kegiatan ini terletak pada penguatan kesadaran bahwa keberagamaan yang moderat adalah fondasi bagi terciptanya kehidupan sosial yang damai, adil, dan harmonis. Melalui workshop ini, diharapkan lahir generasi madrasah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dalam menjaga persatuan dan keberagaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Andi Alqadri)
