Belajar Sains dari Lingkungan, MTsN 1 Tana Toraja Manfaatkan Sampah Organik Jadi Kompos

(Makale, Humas MTsN 1)__Kreativitas dalam menjaga lingkungan terus ditunjukkan oleh warga MTsN 1 Tana Toraja. Salah satu guru IPA, Sunandar bersama peserta didik mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos sebagai bagian dari persiapan penilaian sekolah Adiwiyata.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan madrasah, Sunandar mengajarkan cara membuat pupuk kompos sederhana. Prosesnya menggunakan EM4 (Effective Microorganisms 4), yaitu cairan yang mengandung berbagai mikroorganisme menguntungkan seperti bakteri asam laktat, bakteri fotosintetik, ragi, jamur fermentasi, dan aktinomisetes. Mikroorganisme ini berfungsi mempercepat proses penguraian bahan organik sehingga sampah dapat lebih cepat terfermentasi menjadi kompos.

Sampah organik seperti sisa sayuran, daun kering, dan sisa makanan dicampur dengan EM4 yang telah diencerkan, kemudian dibungkus dalam plastik dan didiamkan kurang lebih satu pekan. Hasilnya, sampah tersebut berubah menjadi pupuk alami yang ramah lingkungan dan bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

“Dengan cara ini, sampah organik yang biasanya terbuang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk alami bagi tanaman. Selain ramah lingkungan, juga mendukung penghijauan madrasah,” jelas Sunandar.

Salah satu peserta didik yang turut serta yakni Rahman, tampak antusias dan mengaku takjub dengan pengalaman barunya.
“Awalnya saya kira sampah itu hanya kotoran yang tidak berguna, ternyata bisa diolah jadi pupuk untuk tanaman. Ini pengalaman berharga,” ungkap Rahman dengan senyum bangga.

Kepala MTsN 1 Tana Toraja, Sampe Baralangi turut memberikan apresiasi atas inovasi ini. Menurutnya, kegiatan sederhana namun kreatif seperti ini sejalan dengan visi madrasah dan mendukung program Adiwiyata yang menanamkan budaya peduli lingkungan.
“Kami sangat bangga dengan kreativitas guru dan peserta didik. Semoga langkah ini dapat terus dikembangkan sehingga madrasah kita semakin hijau, sejuk, dan ramah lingkungan,” ucap Kamad.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi persiapan menuju penilaian sekolah Adiwiyata, tetapi juga menjadi media edukasi praktis bagi peserta didik tentang pentingnya menjaga lingkungan, mengurangi sampah, dan memanfaatkan sumber daya secara bijak. (Cikgu)