Bangun Pondasi Peradaban dari Rumah Tangga, KUA Sangalla Dorong Keluarga Sakinah Berbasis Mubadalah

Sangalla Selatan (Humas KUA Sangalla) — Penguatan ketahanan keluarga terus menjadi perhatian Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sangalla melalui berbagai program pembinaan berbasis masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Pembinaan Keluarga Muslim yang menyasar kelompok Majelis Taklim dan pengurus Masjid Ukhuwah Songgo, Kecamatan Sangalla Selatan, Rabu (4/3/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program The Most KUA yang mendorong KUA untuk lebih aktif hadir di tengah masyarakat dalam memberikan penguatan nilai-nilai keagamaan, khususnya dalam membangun keluarga sakinah.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Masjid Ukhuwah Songgo dan dipandu oleh Muhammad Said sebagai pembawa acara. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sujarmi Mandaling, dilanjutkan dengan doa pembuka oleh Adam Abbas.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala KUA Sangalla, Dahir B. Tahir. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik.

“Alhamdulillah kegiatan ini dapat terlaksana meskipun secara sederhana. Hal ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak, mulai dari ASN jajaran KUA Sangalla, pengurus masjid, hingga kelompok Majelis Taklim Ukhuwah Songgo,” ujarnya.

Memasuki sesi inti pembinaan, Miftah Farid selaku pemateri pertama menyampaikan materi tentang membangun keluarga samara (sakinah, mawaddah, rahmah) berdasarkan prinsip mubadalah atau kesalingan.

Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam penguatan program keluarga sakinah di tengah masyarakat adalah masih belum seimbangnya informasi yang diterima oleh masyarakat terkait relasi dalam keluarga.

Menurutnya, kajian tentang keluarga sakinah sebenarnya sudah banyak dilakukan, khususnya di majelis taklim. Namun demikian, penguatan nilai-nilai tersebut perlu terus diinternalisasi agar dapat menjadi landasan dalam kehidupan rumah tangga.

“Keluarga adalah pondasi peradaban. Keluarga sakinah tidak terbentuk secara otomatis, tetapi harus dibangun melalui komitmen yang kuat antara suami dan istri dengan prinsip kesalingan,” jelasnya.

Sementara itu, pemateri kedua, Gilang Ramadhan selaku penghulu KUA Sangalla, memaparkan tentang pilar-pilar keluarga sakinah yang harus menjadi dasar dalam membangun rumah tangga.

Ia menjelaskan beberapa prinsip utama dalam kehidupan keluarga, di antaranya mitsaqan ghalizhan (ikatan yang kokoh), zawaj (berpasangan), mu’asyarah bil ma’ruf (memperlakukan pasangan dengan cara yang baik), musyawarah, serta taradhin (saling ridha dan menyenangkan).

Menurutnya, kehidupan rumah tangga dapat diibaratkan seperti sebuah bangunan yang tinggi dan kokoh.

“Rumah tangga itu seperti bangunan yang menjulang tinggi. Agar tetap kokoh, harus memiliki pondasi yang kuat. Jika pondasinya rapuh, maka bangunan tersebut akan mudah goyah bahkan roboh,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, KUA Sangalla berharap pembinaan berbasis kelompok seperti majelis taklim dapat terus menjadi ruang edukasi dan penguatan nilai-nilai keluarga sakinah di tengah masyarakat.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi gambaran pentingnya sinergi antara KUA dan kelompok binaan. Komunikasi yang baik antara penyuluh agama dan masyarakat binaan dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan program pembinaan keagamaan di tingkat komunitas. (novi/lisa)